Advertisement
OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.

Pengunjung

Hari ini16
Kemarin31
Minggu ini47
Bulan ini207
Total15564

(C) Fliesenstadt
PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
Indeks Artikel
PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
Halaman 5
Halaman 6

Rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia diikuti juga dengan terpuruknya kualitas pendidikan di segala bidang dan tingkatan. Berdasarkan hasil studi “kemampuan membaca” siswa SD di Indonesia berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti dan di bidang matematika berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang di teliti.

 

Rendahnya kualitas pendidikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh inputnya, terutama calon siswa sebagai raw input. Rendahnya kualitas calon siswa didasarkan pada suatu kenyataan bahwa selama ini perhatian kita terhadap pendidikan bagi anak usia dini masih sangat minim, seperti terungkap dari piramida pendidikan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1999/2000. Partisipasi pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini melalui pendirian Taman Kanak-kanak (TK) di seluruh Indonesia hanya sekitar 255 buah (0,54%), 41.092 buah didirikan oleh pihak swasta (99,46%). Jumlah TK yang sudah berdiri sangatlah tidak berimbang dengan jumlah anak yang seharusnya mengikuti pendidikan di tingkat tersebut. Keterbatasan jumlah ini ditambah dengan tidak meratanya penyebaran TK dimana perkotaan pertumbuhannya lebih pesat dibandingkan di pedesaan.

 

C.     Landasan Keilmuan

Pentingnya PAUD didukung oleh penelitian-penelitian tentang kecerdasan otak. Seorang bayi yang baru lahir memiliki kurang lebih 100 miliar sel otak. Ini menunjukkan selama 9 bulan masa kehamilan, paling tidak setiap menit dalam pertumbuhan otak diproduksi 250 ribu sel otak. Sel-sel otak ini dibentuk berdasarkan stimulasi dari luar otak. Setiap sel otak saling terhubung dengan lebih dari 15 ribu simpul elektrik kimia yang sangat rumit sehingga bayi yang berusia 8 bulan pun diperkirakan memiliki biliunan sel saraf di dalam otaknya. Sel-sel saraf ini harus rutin distimulasi dan didayagunakan supaya terus berkembang jumlahnya.

 

Pada usia rawan saat anak mulai banyak bergerak, yaitu usia 6 bulan, angka kecelakaan dapat berkurang sebanyak 80% bila mereka diberi rangsangan dini. Pada umur 3 tahun, anak-anak ini akan mempunyai IQ 10 sampai 20 poin lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mendapatkan stimulasi. Pada usia 12 tahun, mereka tetap memperoleh prestasi yang baik dan pada usia 15 tahun, tingkat intelektual mereka semakin bertambah. Ini memberi gambaran bahwa pendidikan sejak dini memberikan efek jangka panjang yang sangat baik. Sebaliknya, bila anak mengalami stress pada usia-usia awal pertumbuhannya akan berpengaruh juga pada perkembangan otaknya. Pengalaman yang tidak menyenangkan akan membekas lama dan cukup memberi efek mengubah komposisi sel di dalam otak. Anak yang dibesarkan di dalam lingkungan yang minim stimulasi, berkurang kecerdasannya selama 18 bulan yang tidak mungkin tergantikan. Anak yang masuk PAUD pada usia tiga tahun mungkin saja menunjukan kemampuan, tetapi tetap mereka kelak tidak dapat menunjukkan kecerdasan yang prima bila mereka kehilangan tiga tahun pertama masa pertumbuhannya.

 


 
Berikutnya >